Namaku
Ririt, seorang mahasiswa di salah satu Universitas di Kota Bandung, Jawa Barat.
Entah sampai sekarang aku masih tidak tahu menahu kenapa ayah dan bunda
memberiku nama itu. Katanya namanya cantik dan jarang digunakan orang. Jadi,
kalo nanti dipasar ada yang memanggil namaku, pastilah tidak ada nama lain yang
ikut menengok. Bisa diterima akal sehat sekali alasan mereka ini. Aku mengawali
kehidupanku di Kota yang jauh dari Kota Bandung, tepatnya di daerah Blora, Jawa
Tengah. Tahun ini baru saja aku tamat dari salah satu SMA ternama di Blora,
sebuah kebanggan tersendiri untukku menjadi salah satu alumninya. Berat rasanya
jika harus mengingat cerita cerita jaman SMA yang penuh cerita dramatis yang
ngangenin.
“
Eh lu, bengong bengong aja lu, sendirian lagi “ Tangannya mendorongku kuat
hingga aku tersungkur kedepan. Lagi – lagi kulihat tawa usilnya itu.
Namanya
Tiwi, teman susah senangku di perantauan ini. Dia berasal dari Sulawesi Selatan
di daerah Pare – Pare, eh bukan Kampung Pare Kediri ya. Hehehe. Dia adalah
orang yang multitalent dan selalu menjadi salah satu inspirasiku. Iya memang, semua
inspirasiku selalu berasal dari orang – orang terdekatku, karena dari mereka
aku lebih mudah belajar untuk be better me.
“
Dia tidak pernah bercerita apapun sama aku, sudah kupancing – pancing masih
saja tidak bercerita. Kenapa ya? Kira kira aku harus ngapain lagi? “ curhatku
berusaha menarik perhatian sahabatku ini
“
Ya positif thinking aja, mungkin kamu bukan prioritasnya “ tangkisnya
“
memang harus jadi prioritasnya dulu ya, baru bisa di perhatiin? “ tanyaku
“
bego lu emang. Udahlah ikut gua ke kantin aja, kita cari yang baru” katanya
sambil menyeret nyeret tangan mungilku ini.
……
Aku
bukanlah tipikal wanita yang bisa tergila – gila sama cowok, entah mengapa
disaat teman – temanku bilang ada senior atau teman yang luar biasa ganteng dan
pintarnya, tetap saja standar – standar saja di kedua mataku ini. Teman –
temanku bahkan pernah mencurigai aku sebagai pecinta sesama jenis karena itu.
Aku masih tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa menghargai salah satu
prinsip ku ini, katanya minimal aku harus punya satu cowok lain sebagai penghibur
agar aku tidak merasa kesepian. Kadang suka tidak habis fikir ketika harus
sekedar mengobrol bersama mereka.
Hari
ini jam kuliahku dimulai siang, dengan pakaian yang biasa kupakai masih klop
dengan style celana jeans, kaos, dan jilbab modis jaman kini. Seperti biasa
kelas selalu terlihat ramai, setiap orang mengkotak – kotakan diri dengan
mereka mereka yang mereka anggap satu pikiran dan satu tujuan.
bersambung,
No comments:
Post a Comment