Tuesday, January 29, 2019

Panggil aku dewasa

Namaku Ririt, seorang mahasiswa di salah satu Universitas di Kota Bandung, Jawa Barat. Entah sampai sekarang aku masih tidak tahu menahu kenapa ayah dan bunda memberiku nama itu. Katanya namanya cantik dan jarang digunakan orang. Jadi, kalo nanti dipasar ada yang memanggil namaku, pastilah tidak ada nama lain yang ikut menengok. Bisa diterima akal sehat sekali alasan mereka ini. Aku mengawali kehidupanku di Kota yang jauh dari Kota Bandung, tepatnya di daerah Blora, Jawa Tengah. Tahun ini baru saja aku tamat dari salah satu SMA ternama di Blora, sebuah kebanggan tersendiri untukku menjadi salah satu alumninya. Berat rasanya jika harus mengingat cerita cerita jaman SMA yang penuh cerita dramatis yang ngangenin.
“ Eh lu, bengong bengong aja lu, sendirian lagi “ Tangannya mendorongku kuat hingga aku tersungkur kedepan. Lagi – lagi kulihat tawa usilnya itu.
Namanya Tiwi, teman susah senangku di perantauan ini. Dia berasal dari Sulawesi Selatan di daerah Pare – Pare, eh bukan Kampung Pare Kediri ya. Hehehe. Dia adalah orang yang multitalent dan selalu menjadi salah satu inspirasiku. Iya memang, semua inspirasiku selalu berasal dari orang – orang terdekatku, karena dari mereka aku lebih mudah belajar untuk be better me.
“ Dia tidak pernah bercerita apapun sama aku, sudah kupancing – pancing masih saja tidak bercerita. Kenapa ya? Kira kira aku harus ngapain lagi? “ curhatku berusaha menarik perhatian sahabatku ini
“ Ya positif thinking aja, mungkin kamu bukan prioritasnya “ tangkisnya
“ memang harus jadi prioritasnya dulu ya, baru bisa di perhatiin? “ tanyaku
“ bego lu emang. Udahlah ikut gua ke kantin aja, kita cari yang baru” katanya sambil menyeret nyeret tangan mungilku ini.
……
Aku bukanlah tipikal wanita yang bisa tergila – gila sama cowok, entah mengapa disaat teman – temanku bilang ada senior atau teman yang luar biasa ganteng dan pintarnya, tetap saja standar – standar saja di kedua mataku ini. Teman – temanku bahkan pernah mencurigai aku sebagai pecinta sesama jenis karena itu. Aku masih tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa menghargai salah satu prinsip ku ini, katanya minimal aku harus punya satu cowok lain sebagai penghibur agar aku tidak merasa kesepian. Kadang suka tidak habis fikir ketika harus sekedar mengobrol bersama mereka.

Hari ini jam kuliahku dimulai siang, dengan pakaian yang biasa kupakai masih klop dengan style celana jeans, kaos, dan jilbab modis jaman kini. Seperti biasa kelas selalu terlihat ramai, setiap orang mengkotak – kotakan diri dengan mereka mereka yang mereka anggap satu pikiran dan satu tujuan.

bersambung,  

No comments:

Post a Comment