“ Jauh dekat bukan masalah nak, selama dalam
hatimu ada tekad untuk mengabdi. Menjalani kehidupan selalu ada sisi positif
dan negatifnya, tergantung bagaimana kamu menyikapinya. Percayalah nak
keadaanlah yang akan membentuk dirimu kedepannya “
Begitu
kata ayah semalam sebelum kepergianku ke daerah Serui, daerah yang sangat jauh
dari tempat tinggalku saat ini di Pulau Jawa. Aku mulai dibayang – bayangi
bagaimana kehidupanku disana. Bagaimana bila aku sulit untuk menemukan air
untuk minum sampai bagaimana bila sulit untuk menemukan sinyal handphone untuk
berkomunikasi dengan teman – teman dan keluargaku di Jawa. Meskipun, aku baca
dari internet bahwa Serui bukanlah daerah yang mengerikan untuk ditinggali
orang Jawa sepertiku, karena katanya banyak orang Jawa yang menikah dan tinggal
di sana.
Lambaian
tangan ayah dan bunda menjadi tanda perjalananku dimulai,
“Bismillahirrahmanirrohim” ucapku ragu. Ayah adalah sosok yang selalu menjadi penutanku
dalam mengarungi bengisnya dunia. Kata – katanya selalu mampu menyakinkan aku.
Ayah adalah seorang tentara yang terkenal baik dan bertanggung jawab di
kalangan atasan dan rekan – rekannya. Bahkan, ayah sudah berpengalaman menjadi koordinator
di setiap bidang saat kantornya mengadakan acara. Di rumah, Ayah adalah seorang
kepala keluarga yang penuh dengan canda dan tawa. Sejalan dengan bundaku yang
memiliki sifat lemah lembut dan keibuan yang sangat kental. Suara halus dan
lembutnya selalu mampu membawa aku tenang menemukan jalan keluar atas
permasalahan yang aku temui.
Pesawatku
delay 2 jam, yang seharusnya berangkat pukul 07.00 tadi sekarang aku harus
menunggu kurang lebih satu setengah jam lagi untuk terbang. Seandainya, delay
bisa 2 sampai 3 hari mungkin aku bisa memanfaatkan untuk menghabiskan waktuku
sama ayah dan bunda. Perasaanku semakin tidak beraturan, merantau sejauh ini
untuk pertama kalinya tidak pernah sekalipun terlintas di dalam benakku. Aku
mencoba mencari sisi positif perjalanan panjangku ini, namun masih nihil. Hal –
hal negative mengenai merantau selalu menjadi yang mayoritas menyelimuti
pikiran kalutku. Hatiku semakin gelisah sampai aku harus bolak balik kamar
mandi lima kali untuk sekedar mencuci mukaku. Hingga tiba waktunya aku untuk
terbang, memeriksakan identitasku dan bersiap menuju pesawat.
“
Bismillahirrahmanirrahim ya Allah “ kataku lagi mencoba meyakinkan diriku
sembari menaiki pesawat menuju Sentani.
“
orang jawa asli ya? Ba apa ke Papua” Kata bapak – bapak disibelahku. Dari
bahsanya mungkin dia orang Sulawesi Utara.
“
Merantau pak, untuk pertama kalinya “ jawabku lemas
“
enak sekali ngana e, sekali merantau jauh sekali dapatnya” katanya sumringah
Aku
mengiyakan saja, perkataannya masih tidak sejalan dengan pikiranku. Jauh?
Pertama kali? Enak? Ah sudahlah, tugasku saat ini adalah untuk merantau
mengabdi pada negara, perihal enak tidak enak menurutku harus bisa aku terima.
Toh, aku mau gimana lagi.
Dari
Jayapura, aku harus ganti pesawat untuk ke Serui. Dan setibanya disana
kuhubungi kawanku, Si Somad yang sudah lebih dulu sampai.
“Ah,
senangnya melihatmu mendarat di Serui. Welcome to Paradise!” tuturnya girang
sambil membawakan 2 koper milikku.
“
Paradise? Maksud lo? “ tanyaku sambil mengejar.
“
Liat saja nanti, kau ni baru datang sudah kepo saja. Hahaha” ledeknya sambil
berjalan bergaya
Duh
apes lagi lah aku ini, dapet penempatan di Serui dan memiliki teman seaneh ini.
Enggak aneh sih sebenernya, sedikit lucu cuman kalo setiap hari begini ya bisa
ilfeel setengah mati akunya.
----
“
Loh ini kau pu teman su datang? “ sambut Bapak pemilik rumah, yang kebetulan
rumahnya disewakan kepada kami
“
Iya ni pak, betul kata saya kan pak. Orangnya judes hehe” lagi lagi dia meledek
“
Apaan sih kamu” jawabku kesal
“
Aih jangan baku batengkar kalian. Masuk sudah “ kata bapak melerai.
“
Tau ni pak, ngeselin banget orangnya” ucapku ketus sambil mencoba melepaskan
sepatuku.
Rumah
bapak ini nyaman, Bapak Boi namanya. Kebetulan cuman kami berdua yang tinggal
disini jadi ya nyaman dan terasa luas rumahnya. Belum lagi, Papa Boi – begitu
kami memanggilnya – memberikan keleluasaan pada kami, jadi ya kami merasa
seperti rumah sendiri. Bisa jadi ini merupakan kesan pertama yang sangat
positif dari Serui, orangnya ramah dan baik. Kamarku letaknya dibelakang, ya
tidak begitu jauh memang dari kamar Somad. Katanya karena aku datang terlambat,
jadi kamar bagian depan menjadi ranah kekuasaannya. Ada ada saja lagak si Somad
ini.
“
Samlekooooom, yuhuuu “ terdengar suara Somad sembari mengetuk pintu
“
Astaghfirullah Somaaaad! “ ucapku sebal
“
ehehe assalamualaikum bos, bisa aku masuk? “ katanya sambil melangkah masuk,
padahal belum kujawab pertanyaannya
“ada
apa lagi? Udah mulai rindu ? “ tanganku masih sibuk merapikan baju di almari
pakaian
“
Homo kau ya? Gimana besok? Udah siap mengabdi di tempat yang baru? “ tanyanya
“
Siap gak siap, kita kan harus siap. Toh, kamu lihat sendiri kalo Papa Boi baik
dan ramah, ya menurutku orang – orang disini juga begitu “ jelasku
“
Tapi aku sudah rindu keluarga dan pacarku di Bandung, kayaknya bakalan gak
semangat kerja deh aku ini “ Somad mulai merebahkan badannya di kasur yang
belum aku bersihkan.
Begitupun
denganku, aku tidak mungkin menasihati Somad sedangkan apa yang aku alamipun
tidak jauh berbeda dengannya. Untung Somad laki – laki, kalau tidak sudah
kupeluk dia untuk menenangkannya. Memang berat kuaikui, hari pertama di kota
orang dan aku tidak mengenal siapapun, keluarga juga tidak ada.
“
Ah kau ini, sudahlah sana keluar. Aku mau istirahat “ aku coba mengalihkan
pembicaraan
“
Nanti mau makan malam dimana? “ tanyanya lagi
“
Dimana saja asal aku kenyang “
“
Mau nyobain daging babi gak? “ tanyanya ngelantur
Belum
sempat kupukul, Somad sudah lari sambil tertawa lepas, duh Somad Somad.
----
Merantau
yang awalnya seram dibenakku ternyata membawa cerita baru dalam hidupku. Sudah
hampir sebulan tak terasa aku bekerja, kata Bosku akupun sudah bisa mengambil
cuti. Kesempatan itu aku gunakan untuk menghubungi ibukku.
“
kenapa lama sekali ibu mengangkat telfonku ya? Mungkin karena sudah sebulan
tidak kuhubungi “ heranku
“
hubungi saja besok, mending sekarang kita main ke pos ronda dulu “ ajaknya
Aku
pun menuruti ajakan si Somad untuk ke pos ronda, sekedar bercengkrama bersama
warga sekitar sambil menikmati kopi dan
hangatnya senja. Dalam hatiku girang sekali, sebentar lagi aku pulang kembali
ke Jawa.
Tiba
– tiba saja hpku bergetar, ternyata sms yang sedari tadi aku tunggu – tunggu.
Ibu mengirimkanku pesan.
-
Ada apa anakku? Apakah pekerjaanmu sudah
selesai sampai kamu bisa menghubungi ibu?
-
Tanpa
pikir panjang kuberitakan pada ibu bahwa aku akan pulang 3 hari lagi. Kurasa
ibu tampak senang mengetahui kabar ini.
----
Pandanganku
tertuju pada rumah hijau dengan pot pot bunga kesayangan ibu yang terlihat
berantakan saat itu. Sudah terlalu lama rasanya aku meninggalkan rumah masa
kecilku ini.
Nampak
banyak sampah berkeliaran, tumben biasanya ibu bahkan tidak pernah membiarkan
daun berserakan karena katanya membawa kesan buruk pada tamu yang datang.
“
Assalamualaikum bu, bu aku pulang “ sorakku
“
Waalaikumsalam, nak “ sambil menyeka matanya dengan kain usang
“
Ibu kenapa? Kenapa mata sama hidung ibu merah semua? Ada apa bu? “ tanyaku
“
Tidak kenapa napa, le. Gimana kerjamu disana? Ibu mengalihkan pembicaraan
Tapi
tunggu, kenapa seperti ada yang berbeda. Tidak terlihat ayah menyambutku.
Biasanya dia yang paling sibuk menanyakan keberadaanku karena ayahlah yang
pasti akan menjemput.
“
Ayah? mana? “ sambil meletakkan barang bawaanku di kursi teras
Ibu
sontak menangis deras mendengar pertanyaanku. Terus menerus kain usang itu
mencoba mengeringkan air matanya.
“A..a..yah”
“
Iya bu, ayah dimana?” Perasaanku mulai tak enak
“
A..a..ya..h su.. su..sudah mening.. “ katanya terbata – bata
Belum
sempat ibu menyelesaikan kalimatnya, sudah kumengerti maksudnya. Kudekap ibu
erat. Hancur diriku saat itu, hancur yang sangat hancur. Mengapa hadiah seperti
ini yang diberikan kepadaku saat pertama kali pulang ke Jawa.
“Ayah,
mengapa belum sempat kita berpamitan? “
…..
Merantau
tidak membuatmu menjadi pribadi yang primitif, pengalaman merantau merubahmu menjadi
pribadi yang dewasa, beruntunglah kalian yang memiliki kesempatan itu.
Berbagahagialah.
No comments:
Post a Comment