Tuesday, January 29, 2019

BOROBUDUR TEMPLE AS A FAMOUS DESTINATION IN MAGELANG, CENTRAL JAVA


            Borobudur Temple is a world’s largest Buddist temple that located in Central Java especially in Borobudur village, Magelang district. The world’s largest Buddhist temple is made up of five large square terraces, with three circular platforms on top of them, and then a magnificent stupa at the very top. The temple’s pathway takes one from the earthly realm of desire (kamadhatu), represented and documented on the hidden narratives of the structure’s earthbound base, through the world of forms (rupadhatu) as expounded on the narratives carved along the four galleries set at right angles, until one finally emerges into the realm of formlessness (arupadhatu) as symbolized and manifested in the open circular terraces crowned with 72 stupas.

            In Buddhist belief, the closer you are to Heaven, the closer you are to the gods. And as you climb the steps of the temple, the jungle landscape of Indonesia revealing itself in every direction, you can understand how the people who built this masterpiece felt more connected to the ethereal than the earthly.


The Borobudur temple is part of a beautiful landscape, which makes taking really good photographs possible. The combination of the temple’s beauty and the beauty of the surroundings is impressive. The temple was peaceful, especially in the early morning, with a nice view of the distant mountains and sunrise but  a special sunrise ticket must be purchased if you plan to see Borobudur at sunrise.



Panggil aku dewasa

Namaku Ririt, seorang mahasiswa di salah satu Universitas di Kota Bandung, Jawa Barat. Entah sampai sekarang aku masih tidak tahu menahu kenapa ayah dan bunda memberiku nama itu. Katanya namanya cantik dan jarang digunakan orang. Jadi, kalo nanti dipasar ada yang memanggil namaku, pastilah tidak ada nama lain yang ikut menengok. Bisa diterima akal sehat sekali alasan mereka ini. Aku mengawali kehidupanku di Kota yang jauh dari Kota Bandung, tepatnya di daerah Blora, Jawa Tengah. Tahun ini baru saja aku tamat dari salah satu SMA ternama di Blora, sebuah kebanggan tersendiri untukku menjadi salah satu alumninya. Berat rasanya jika harus mengingat cerita cerita jaman SMA yang penuh cerita dramatis yang ngangenin.
“ Eh lu, bengong bengong aja lu, sendirian lagi “ Tangannya mendorongku kuat hingga aku tersungkur kedepan. Lagi – lagi kulihat tawa usilnya itu.
Namanya Tiwi, teman susah senangku di perantauan ini. Dia berasal dari Sulawesi Selatan di daerah Pare – Pare, eh bukan Kampung Pare Kediri ya. Hehehe. Dia adalah orang yang multitalent dan selalu menjadi salah satu inspirasiku. Iya memang, semua inspirasiku selalu berasal dari orang – orang terdekatku, karena dari mereka aku lebih mudah belajar untuk be better me.
“ Dia tidak pernah bercerita apapun sama aku, sudah kupancing – pancing masih saja tidak bercerita. Kenapa ya? Kira kira aku harus ngapain lagi? “ curhatku berusaha menarik perhatian sahabatku ini
“ Ya positif thinking aja, mungkin kamu bukan prioritasnya “ tangkisnya
“ memang harus jadi prioritasnya dulu ya, baru bisa di perhatiin? “ tanyaku
“ bego lu emang. Udahlah ikut gua ke kantin aja, kita cari yang baru” katanya sambil menyeret nyeret tangan mungilku ini.
……
Aku bukanlah tipikal wanita yang bisa tergila – gila sama cowok, entah mengapa disaat teman – temanku bilang ada senior atau teman yang luar biasa ganteng dan pintarnya, tetap saja standar – standar saja di kedua mataku ini. Teman – temanku bahkan pernah mencurigai aku sebagai pecinta sesama jenis karena itu. Aku masih tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa menghargai salah satu prinsip ku ini, katanya minimal aku harus punya satu cowok lain sebagai penghibur agar aku tidak merasa kesepian. Kadang suka tidak habis fikir ketika harus sekedar mengobrol bersama mereka.

Hari ini jam kuliahku dimulai siang, dengan pakaian yang biasa kupakai masih klop dengan style celana jeans, kaos, dan jilbab modis jaman kini. Seperti biasa kelas selalu terlihat ramai, setiap orang mengkotak – kotakan diri dengan mereka mereka yang mereka anggap satu pikiran dan satu tujuan.

bersambung,  

Hidup Dalam Skenario Tuhan

 “ Jauh dekat bukan masalah nak, selama dalam hatimu ada tekad untuk mengabdi. Menjalani kehidupan selalu ada sisi positif dan negatifnya, tergantung bagaimana kamu menyikapinya. Percayalah nak keadaanlah yang akan membentuk dirimu kedepannya “
Begitu kata ayah semalam sebelum kepergianku ke daerah Serui, daerah yang sangat jauh dari tempat tinggalku saat ini di Pulau Jawa. Aku mulai dibayang – bayangi bagaimana kehidupanku disana. Bagaimana bila aku sulit untuk menemukan air untuk minum sampai bagaimana bila sulit untuk menemukan sinyal handphone untuk berkomunikasi dengan teman – teman dan keluargaku di Jawa. Meskipun, aku baca dari internet bahwa Serui bukanlah daerah yang mengerikan untuk ditinggali orang Jawa sepertiku, karena katanya banyak orang Jawa yang menikah dan tinggal di sana.
Lambaian tangan ayah dan bunda menjadi tanda perjalananku dimulai, “Bismillahirrahmanirrohim” ucapku ragu. Ayah adalah sosok yang selalu menjadi penutanku dalam mengarungi bengisnya dunia. Kata – katanya selalu mampu menyakinkan aku. Ayah adalah seorang tentara yang terkenal baik dan bertanggung jawab di kalangan atasan dan rekan – rekannya. Bahkan, ayah sudah berpengalaman menjadi koordinator di setiap bidang saat kantornya mengadakan acara. Di rumah, Ayah adalah seorang kepala keluarga yang penuh dengan canda dan tawa. Sejalan dengan bundaku yang memiliki sifat lemah lembut dan keibuan yang sangat kental. Suara halus dan lembutnya selalu mampu membawa aku tenang menemukan jalan keluar atas permasalahan yang aku temui.
Pesawatku delay 2 jam, yang seharusnya berangkat pukul 07.00 tadi sekarang aku harus menunggu kurang lebih satu setengah jam lagi untuk terbang. Seandainya, delay bisa 2 sampai 3 hari mungkin aku bisa memanfaatkan untuk menghabiskan waktuku sama ayah dan bunda. Perasaanku semakin tidak beraturan, merantau sejauh ini untuk pertama kalinya tidak pernah sekalipun terlintas di dalam benakku. Aku mencoba mencari sisi positif perjalanan panjangku ini, namun masih nihil. Hal – hal negative mengenai merantau selalu menjadi yang mayoritas menyelimuti pikiran kalutku. Hatiku semakin gelisah sampai aku harus bolak balik kamar mandi lima kali untuk sekedar mencuci mukaku. Hingga tiba waktunya aku untuk terbang, memeriksakan identitasku dan bersiap menuju pesawat.
“ Bismillahirrahmanirrahim ya Allah “ kataku lagi mencoba meyakinkan diriku sembari menaiki pesawat menuju Sentani.
“ orang jawa asli ya? Ba apa ke Papua” Kata bapak – bapak disibelahku. Dari bahsanya mungkin dia orang Sulawesi Utara.
“ Merantau pak, untuk pertama kalinya “ jawabku lemas
“ enak sekali ngana e, sekali merantau jauh sekali dapatnya” katanya sumringah
Aku mengiyakan saja, perkataannya masih tidak sejalan dengan pikiranku. Jauh? Pertama kali? Enak? Ah sudahlah, tugasku saat ini adalah untuk merantau mengabdi pada negara, perihal enak tidak enak menurutku harus bisa aku terima. Toh, aku mau gimana lagi.
Dari Jayapura, aku harus ganti pesawat untuk ke Serui. Dan setibanya disana kuhubungi kawanku, Si Somad yang sudah lebih dulu sampai.
“Ah, senangnya melihatmu mendarat di Serui. Welcome to Paradise!” tuturnya girang sambil membawakan 2 koper milikku.
“ Paradise? Maksud lo? “ tanyaku sambil mengejar.
“ Liat saja nanti, kau ni baru datang sudah kepo saja. Hahaha” ledeknya sambil berjalan bergaya
Duh apes lagi lah aku ini, dapet penempatan di Serui dan memiliki teman seaneh ini. Enggak aneh sih sebenernya, sedikit lucu cuman kalo setiap hari begini ya bisa ilfeel setengah mati akunya.  
----
“ Loh ini kau pu teman su datang? “ sambut Bapak pemilik rumah, yang kebetulan rumahnya disewakan kepada kami
“ Iya ni pak, betul kata saya kan pak. Orangnya judes hehe” lagi lagi dia meledek
“ Apaan sih kamu” jawabku kesal
“ Aih jangan baku batengkar kalian. Masuk sudah “ kata bapak melerai.
“ Tau ni pak, ngeselin banget orangnya” ucapku ketus sambil mencoba melepaskan sepatuku.
Rumah bapak ini nyaman, Bapak Boi namanya. Kebetulan cuman kami berdua yang tinggal disini jadi ya nyaman dan terasa luas rumahnya. Belum lagi, Papa Boi – begitu kami memanggilnya – memberikan keleluasaan pada kami, jadi ya kami merasa seperti rumah sendiri. Bisa jadi ini merupakan kesan pertama yang sangat positif dari Serui, orangnya ramah dan baik. Kamarku letaknya dibelakang, ya tidak begitu jauh memang dari kamar Somad. Katanya karena aku datang terlambat, jadi kamar bagian depan menjadi ranah kekuasaannya. Ada ada saja lagak si Somad ini.
“ Samlekooooom, yuhuuu “ terdengar suara Somad sembari mengetuk pintu
“ Astaghfirullah Somaaaad! “ ucapku sebal
“ ehehe assalamualaikum bos, bisa aku masuk? “ katanya sambil melangkah masuk, padahal belum kujawab pertanyaannya
“ada apa lagi? Udah mulai rindu ? “ tanganku masih sibuk merapikan baju di almari pakaian
“ Homo kau ya? Gimana besok? Udah siap mengabdi di tempat yang baru? “ tanyanya
“ Siap gak siap, kita kan harus siap. Toh, kamu lihat sendiri kalo Papa Boi baik dan ramah, ya menurutku orang – orang disini juga begitu “ jelasku
“ Tapi aku sudah rindu keluarga dan pacarku di Bandung, kayaknya bakalan gak semangat kerja deh aku ini “ Somad mulai merebahkan badannya di kasur yang belum aku bersihkan.
Begitupun denganku, aku tidak mungkin menasihati Somad sedangkan apa yang aku alamipun tidak jauh berbeda dengannya. Untung Somad laki – laki, kalau tidak sudah kupeluk dia untuk menenangkannya. Memang berat kuaikui, hari pertama di kota orang dan aku tidak mengenal siapapun, keluarga juga tidak ada.
“ Ah kau ini, sudahlah sana keluar. Aku mau istirahat “ aku coba mengalihkan pembicaraan
“ Nanti mau makan malam dimana? “ tanyanya lagi
“ Dimana saja asal aku kenyang “
“ Mau nyobain daging babi gak? “ tanyanya ngelantur
Belum sempat kupukul, Somad sudah lari sambil tertawa lepas, duh Somad Somad.
----
Merantau yang awalnya seram dibenakku ternyata membawa cerita baru dalam hidupku. Sudah hampir sebulan tak terasa aku bekerja, kata Bosku akupun sudah bisa mengambil cuti. Kesempatan itu aku gunakan untuk menghubungi ibukku.
“ kenapa lama sekali ibu mengangkat telfonku ya? Mungkin karena sudah sebulan tidak kuhubungi “ heranku
“ hubungi saja besok, mending sekarang kita main ke pos ronda dulu “ ajaknya
Aku pun menuruti ajakan si Somad untuk ke pos ronda, sekedar bercengkrama bersama warga sekitar  sambil menikmati kopi dan hangatnya senja. Dalam hatiku girang sekali, sebentar lagi aku pulang kembali ke Jawa.
Tiba – tiba saja hpku bergetar, ternyata sms yang sedari tadi aku tunggu – tunggu. Ibu mengirimkanku pesan.
-          Ada apa anakku? Apakah pekerjaanmu sudah selesai sampai kamu bisa menghubungi ibu?  -
Tanpa pikir panjang kuberitakan pada ibu bahwa aku akan pulang 3 hari lagi. Kurasa ibu tampak senang mengetahui kabar ini.
----
Pandanganku tertuju pada rumah hijau dengan pot pot bunga kesayangan ibu yang terlihat berantakan saat itu. Sudah terlalu lama rasanya aku meninggalkan rumah masa kecilku ini.
Nampak banyak sampah berkeliaran, tumben biasanya ibu bahkan tidak pernah membiarkan daun berserakan karena katanya membawa kesan buruk pada tamu yang datang.
“ Assalamualaikum bu, bu aku pulang “ sorakku
“ Waalaikumsalam, nak “ sambil menyeka matanya dengan kain usang
“ Ibu kenapa? Kenapa mata sama hidung ibu merah semua? Ada apa bu? “ tanyaku
“ Tidak kenapa napa, le. Gimana kerjamu disana? Ibu mengalihkan pembicaraan
Tapi tunggu, kenapa seperti ada yang berbeda. Tidak terlihat ayah menyambutku. Biasanya dia yang paling sibuk menanyakan keberadaanku karena ayahlah yang pasti akan menjemput.
“ Ayah? mana? “ sambil meletakkan barang bawaanku di kursi teras
Ibu sontak menangis deras mendengar pertanyaanku. Terus menerus kain usang itu mencoba mengeringkan air matanya.
“A..a..yah”
“ Iya bu, ayah dimana?” Perasaanku mulai tak enak
“ A..a..ya..h su.. su..sudah mening.. “ katanya terbata – bata
Belum sempat ibu menyelesaikan kalimatnya, sudah kumengerti maksudnya. Kudekap ibu erat. Hancur diriku saat itu, hancur yang sangat hancur. Mengapa hadiah seperti ini yang diberikan kepadaku saat pertama kali pulang ke Jawa.
“Ayah, mengapa belum sempat kita berpamitan? “

…..

Merantau tidak membuatmu menjadi pribadi yang primitif, pengalaman merantau merubahmu menjadi pribadi yang dewasa, beruntunglah kalian yang memiliki kesempatan itu. Berbagahagialah.